WISATA GARUT YANG MEMPESONA



Liburan Iedul Fitri 1432 H kali ini ada tangis yang menyertai keberangkatan kami. Maklum sebelum berangkat sempat terjadi insiden yang tidak enak dari  aku dan suamiku. Insiden yang harusnya tidak terjadi bila suamiku mau bersabatr dan jujur.
Yah sudahlah yang ada akhirnya tepat hari Senin, 5 Sepetember 2011 pukul 14.00 kami berangkat menuju Garut lewat Tol Cipularang. Memasuki tol Cipularang ada rasa was-was akibat pemberitaan Km 97 yang menewaskan istri selebritis terkenal. Doa aku panjatkan agar kami walaupun pergi dengan rasa tak nyaman bisa selamat sampai tujuan. Lalu lintas tidak ramai maklum orang yang mudik sudah balik semua atau bahkan ada juga sisa-sisanya.
Sampai kota Bandung pukul 16.00 Wib, lewat dikitlah lumayan keluar Tol Cileunyi menuju Nagreg jalan masih lengang dan sudah terasa sejuk adem dan nyaman, terasa udara pegunungannya. Menuju Nagreg jalan mulai tersendat namun masih bisa dilalui 60 km perjam. Memasuki wilayah Garut mulailah kemacetan di sepanjang jalan raya menuju kota Garut. Mobil yang kami tumpangi tersendat hanya 10 detik jalan diam kembali. Hotel yang sudah aku boking belum jelas ada di wilayah mana. Setelah bertanya sana sini akhirnya hotel Agusta di daerah Cipanas Garut terlihat. Anakku Raynaldi yang sudah sibuk dari awal perjalanan terlihat riang.
Kamar yang kami tempati ada di lantai 1 tepat di sebelah kolam renang. Namun, airnya dingin menusuk tulang apalagi hari sudah pukul 17.35. anakku yang bersemangat akhirnya memutuskan akan berenang besok pagi apalagi badan lelah setelah menempuh perjalanan 6 jam. Dua ekstra bed aku pesan untuk anakku Natasha, Raynaldi dan keponakanku Reza cukuplah. Malam itu menu kami Pop Mie dan sambel teri yang kami bawa dari rumah. Lumayan hangatkan perut dan kenyang. Di pinggir kolam renang kami habiskan waktu malam itu apalagi anakku Natasha senang sekali setelah tahu hotel Agusta memiliki sarana Wifi. Sampai malam ia dan Reza browsing internet. Rasanya kemarahan tadi pagi berlahan menguap dengan dinginnya udara Garut. Semoga kebersamaan ini bukan ilusi dan fatamorgana saja.
Sarapan dengan nasi goreng tandas di perut anak-anakku. Hari ini kami akan menghabiskan waktu menjelajahi Garut dan sekitarnya. Tujuan pertama ke Situ Cangkuang dan Candi Cangkuang. Setelah bertanya sana-sini akhirnya objek wisata di daerah Leles Garut bisa kami kunjungi. Memasuki objek wisata tersebut jalan yang kami lewati kecil dan belum beraspal bagus. Kira-kira 5 Km dari jalan raya Garut kawasan wisata ini bisa dicapai. Masuk obejek wisata satu orang dikenakan biaya 5 ribu  dan untuk mencapai candi rasanya harus hati-hati dengan akal licik para penjaja rakit
Hati-hati dengan gaya menipu mereka. Pada awal kami berangkat menggunkan rakit mereka meminta upah satu orang Rp 4000, katanya kalau mau berangkat harus 30 orang yang artinya kami harus membayar Rp 120.000. Karena masih pagi aku putuskan menunggu sajalah toh tidak lama. Satu persatu penumpang rakit mulai naik. Akhirnya karena situasi tidak ramai rakit kami berangkat dengan jumlah penumpang 17 orang. Sampai di Candi, ketika aku sodorkan ongkos katanya nanti saja tinggal menghapalkan nomor rakitnya. Nah waktu pulang karena tidak berbarengan tukang rakit seenaknya saja menaikkan tarif, katanya kalau tidak mau yah tunggu saja. BT ga, kalau menunggu lagi kan kebutuhan dan keperluan berbeda, mungkin yang lain masih asyik kongkow-kongkow. Kami akan melanjutkan perjalanan lagi nih. Akhirnya dengan jengkel kusanggupi memabayar Rp 10.000 satu orang.
Sampai di seberang situ atau di candi, berkelilinglah kami., bukan untuk melihat lokasi candi tapi mencari jalan masuk candi. Lumayan jauh, kita harus memasuki kampung Pulo. Menurut penduduk setempat kampung Pulo adalah pemukiman para keturunan penjaga candi. namun ada yang unik hanya boleh 6 rumah dan 6 keluarga saja dari keturunan yang perempuan. warna rumah cat putih dan sama bentuk rumahnya.
Masjid Kampung Pulo
Candi Cangkuang hanya satu itu pun tidak besar atau wah.. seperti candi-candi di Jawa seperti Prambanan, Borobudur, atau candi sewu. 
Candi Cangkuang yang sorangan wae

Pukul 13.00 kami lanjutkan perjalanan, rencana akan menuju situ Bagendit, masih di wilayah Garut hanya berbeda kecamatan saja. Bila ingin tidak dihadang kemacetan dari jalan raya Garut menuju kota Garut, lewat kampung saja atau dari Candi Cangkuang belok kanan. Jalannya memang kurang bagus alias tidak mulus. Masih berbatu dan berdebu, bila musim panas debu beterbangan kemana-mana kalau naik motor tidak pakai penutup niscaya muka kita penuh debu. Mobil kami saja bentuknya sudah tidak karuan penuh debu.
Perjalanan tidak begitulama hanya 30 menit sampailah kami di situ Bagendit. Dengan modal legenda yang aku dengar, anakku antusias ingin ke tengah situ yang katanya banyak ikan mujair Nila dan gabusnya.
Sama dengan masuk area candi cangkuang, di Situ Bagendit karcis masuk Rp 5000 perorang. Para penjual gorengan, minuman, makanan bertebaran di pinggir situ membuat kawasan itu kumuh sekali.
untuk ke tengah situ kita bisa menyewa rakit angsa yang perlu tenaga goesan dengan harga sewa Rp 15.00 per 30 menit atau menyewa rakit bambu yang sama dengan yang di candi Cangkuan hanya lebih murah yaitu Rp 30.000 sepuasnya. Di tengah situ kita bisa merapat ek warung-warung yang memang disediakan oleh pengelola. warung tersebut menjual makanan gorengan, bakwan, ubi, singkong , makanan ringan, minuman air kelapa yang dihidangkan dengan batoknya dan juga bila kita berniat makan dengan menu ikan ada ikan segar yang bisa dibwa pulang.
Di Situ Bagendit hanya 30 menit setelah itu kami melanjutkan perjalanan ke Curug Orok atau masyarakat sekita menyebutnya CO. Lumayanlah dengan modal tanya sana-sini dan dijawab dengan bahasa setempat alias bahasa Sunda, sampai juga kami di CO. Curug Orog peninggalan kerajaan Kahuripan, memang sungguh indah dan sejuk sekali. Curug yang berjumlah tiga ternyata menyimpan cerita sendiri-sendiri. Konon kabarnya bila kita mandi atau minum air dari curug orok katanya akan menyembuhkan penyakit, Wallahualam belive or not up to you. Aku sempat meminum air curug tersebut bukan ingin menguji kepercayaan tapi ingin merasakan segarnya air pegunungan langsung. Air tersebut benar-benar segar dan agak manis.
Sore hari walaupun anak-anakku masih ingin berlama-lama di curug orok, namun karena kabut mulai turun akhirnya kami kembali ke hotel.
Hari ini tanggal 6 September 2011 atau tepat 17 tahun ulang tahun perkawinan kami. Walau suamiku belum memberikan kebahagiaan dan kesenangan untuk hidupku, namun aku yakin suatu saat ia menyadari betapa berharganya aku, istrinya yang ia nikahi 17 tahun yang lalu. Untuk merayakan kami memilih sebuah rumah makan yang tentu saja bagus dan nyaman serta makananya enak. Restoran Cibiuk yang terkenal dengan sambalnya dan Chocodot atai choklat isi dodol, jadi pilihan kami.
Menu yang dipilih adalah gurame goreng pedas khas Cibiuk, soto, ayam bakar dan tentu saja sambal khas cibiuk. Menu komplit yang ternyata belum nendang tuh, Kata anakku Raynaldi sambalnya kurang pedas, ayamnya cungkring alias kecil banget. Sampai makanan kami habis menu yang dipesan Natasha anakku belum datang yaitu gurame goreng pedas.Akhirnya datang juga tuhgurame, besar dan menggoda. Menu yang pas dan mantaps... tandas tinggal tulang saja yang tanpa kriuk.
Hari itu penuh kesan, diulangtahun perkawinan kami yang ke-17, mudah-mudahan tidak ada lagi aral yang merintangi hidup kami ke depan. Pulang ke hotel dengan perut kenyang tinggal tidur, esok aktivitas menjelajahi kota Bandung siap kami lakukan.
Pagi Rabu, 7 September 2011 pukul 09.00 kami sudah bersiap untuk cek out dari hotel Agusta. biaya yang harus aku keluarkan Rp 800.00 dengan rincian sewa kamar dua malam Rp 500 .000 ekstra bed  dua buah untuk dua malam Rp 300.000. Cukup murah untuk kenyamanan dan liburan yang menyenangkan. Bismillah mobil kami meluncur pulang untuk melanjutkan ke Bandung, maunya melihat sentral sepatu di Cibaduyut, namun kekecewaan yang ada karena tak seperti yang diharapkan kumuh dan kusam.
Karena tak ada yang bisa diharapkan kami lanjutkan ke Cihampelas dengan tujuan dari Factory Outlet, karena anakku Raynaldi ingin membeli kaos bergambar The Beatles band kesayangannya. Setelah putar-sana , tanya sini akhirnya dapat juga baju dan celana dengan harga kaos Rp 50.000 dan celana pensil Rp 189.000. Yah akhirnya pulang juga dengan bawaan segunug oleh-oleh dan baju kotor. Tidak enak kalau mobil pinjaman, aku dan ekdua anakku harus turun di jalan untuk melanjutkan pulang sementara suamiku memulangkan mobil.



No comments:

Post a Comment