RESEPSI SASTRA

RESEPSI SASTRA

1. Pendahuluan
Karya sastra sangat erat hubungannya dengan pembaca, karena karya sastra dihasilkan untuk pembaca (audiens). Pengarang menghasilkan karya sastra karena dorongan minat dan bakat seninya, imajinasinya, dan kreativitasnya. Tentu saja iamenyampaikan suatu pesan (makna niatan) kepada masyarakat pembacanya melalui karya sastra.
Menurut Nani Tulilo dalam bukunya �Kajian Sastra� , karya sastra adalah suatu aspek budaya yang dapat dipakai sebagai dokumentasi budaya, sejarah, atau juga refleksi kehidupan masyarakat pada saat karya itu dihasilkan. Tanpa pembaca, karya sastra adlah suatu benda mati tanpa punya arti atau makna. Menurut Jauss yang dikutip Nani Tulilo bahwa kehidupan historis sebuah karya sastra tidak terpikirkan tanpa partisipasi para pembaca. Membaca itu mempunyai peran aktif, bahkan merupakan kekuatan pembentuk sejarah (Jauss, dalam Nani Tulilo, 2000: 72).
2. Pengertian Resepsi Sastra
Secara definitive resepsi sastra berasal dari kata recipere (Latin), reception (Inggris), yang diartikan sebagai penerimaan atau penyambutan pembaca. Dalam arti luas resepsi didefinisikan sebagai pengolahan teks, cara-cara pemberian makna terhadap karya sehingga dapat memberikan respon terhadapnya. (Nyoman Kutha Ratna, 2011: 165)
3. Sejarah Resepsi Sastra
Masalah-maslah yang berkaitan dengan kompetensi pembaca mulai timbul di kalangan strukturalis Praha, dengan adanya pergeseran pandangan dari analisis unsure menuju ke aspek-aspek di luarnya yang dikenal sebagai strukturalisme dinamik yang dikemukakan oleh Mukarovsky ssekitar tahun 1930, dilanjutkan oleh Felix Vodicka, muridnya Jusz.
Resepsi sastra tampil sebagai sebuah teori dominan sejak tahun 1970-an dengan pertimbangan :
a. Sebagai jalan ke luar untuk mengatasi strukturalisme yang dianggap hanya memberikan perhatian terhadap unsure-unsur
b. Timbulnya kesadaran untuk membangkitkan kembali nilai-nilai kemanusian dalam rangka kesadaran humanism universal
c. Kesadaran bahwa nilai-nilai karya sastra dapat dikembangkan hanya melalui kompetensi pembaca
d. Kesadaran bahwa nilai karya seni disebabkan oleh pembaca
e. Kesadaran bahwa makna terkandung dalam hubungan ambiguitas antara karya sastra dengan pembaca
Dalam menganalisa penerimaan suatu karya sastra ada hal-hal berikut mengapa kita penting mempelajari resepsi sastra. Menurut Vodicka hal-hal berikut ini adalah alasan mengapa penting mempelajari resepsi sastra.
a. Rekonstruksi kaidah sastra dan kompleks anggapan tentang sastra pada suatu masa.
b. Rekonstruksi sastra suatu masa, misalnya mengenai kelompok karya yang biasanya menjadi objek penilaian yang ada ketika itu, dan lukisan tentang hirarki atau urutan nilai sastra pada suatu masa.
c. Studi tentang konkretisasi karya sastra (yang semasa dan yang lalu), misalnya studi tentang bentuk sebuah sastra, terhadap mana kita lontarkan pengertian kita mengenai masa itu (melalui kongkretisasi yang kritis)
d. Studi tentang keluasaan pengaruh/kesan dari suatu karya ke dalam lapangan sastra / bukan sastra. (Vodicka,dalam Umar Junus,1985: 31)
4. Resepsi dan Penafsiran
Luxemburg, dkk. (1984:62) membedakan antara resepsi dan penafsiran. Ciri �ciri penerimaan atau resepsi adalah reaksi, baik langsung maupun tidak langsung. Penafsiran bersifat lebih teroritis dan sistematis oleh karena itu termasuk bidang kritik sastra.
Resensi novel di surat kabar termasuk resepsi, sedangkan pembicaraan novel tersebut di majalah ilmiah termasuk penafsiran.namun dalam perkembangannya sekarang resepsi sastra sudah disertai dengan penafsiran dan bahkan penafsiran yang sangat rinci.

Contoh studi resepsi sastra

Bunda dan anak
(Rustam Effendi, 1925)
Masa jambak
Buah sebuah
Diperam dahan di ujung dahan
Merah darah
Beruris-uris
Bendera masak bagi selera

Lembut umbut,
Disantap sayang
Keroak pipi pengobat haus
Harum baun
Sumarak jambak
Di bawah pohon terjatuh ranum

Lalu ibu
Dipokok pohon
Tertarung hidung,terjatuh mata
Pada pala,
Tinggal sepanggal
Terpecik liur di bawah lidah

Belum jambu
Masuk direguk,
Terkenang anak, terkalang di rangkung
Dalam talam,
Bunda bersimpan
Menanti put�ra sibungsu sulung

Anak lasak
Tersera-sera
bunda berlari mengambil jambu
Ibu sugu
Buah sebuah,
Sedapnya masa dirasa ibu


Sajak itu dapat diintrepretasikan sebagai berikut:
I. Bait 1 dan 2
Cerita tentang buah jambu yang ranum, yang menerbitkan selera yang telah jatuh ke bawah pohon.
II. Bait 3 dan 4
Ibu menemui buah jambu itu, yang hanya tinggal sepenggal karena sudah dimakan burung. Ibu ingin mereguknya, tapi ingatan kepada anaknya menyebabkan ia mengurungkan maksudnya. Jambu itu disimpannya dalam talam untuk dimakan anak tunggalnya bila anaknya pulang nanti
III. Bait 5 dan 6
Bila si anak pulang, ibu dengan segera menyuguhkan jambu itu kepadanya, kepuasan anaknya juga kepuasannya sendiri. Tapi lai lagi penerimaan anaknya. Anaknya merungut dan merajuk. Cinta bundanya disangkanya bakhil. Karena itu, jambu itu dilemparkannya ke luar pagar. Dan ibu itu hanya diam mengurut dada. (Umar Junus,1985: 23)
Karya Rustam effendi di atas tidak akan berkata apa-apa, hanya suatu �cerita� biasa, bila karya itu tidak diberikan interpretasi yang imajinatif.
Kehidupan Resepsi sastra secara singkat dapat disebut sebagai aliran yang meneliti teks sastra dengan bertitik tolak pada pembaca yang memberi reaksi atau tanggapan terhadap teks itu.Pembaca selaku pemberi makna adalah variabel menurut ruang, waktu dan golongan sosial budaya. Menurut perumusan teori ini, dalam memberikan sambutan terhadap sesuatu karya sastra, pembaca diarahkan oleh horizon harapan. " Horizon harapan " ini merupakan reaksi antara karya sastra di satu pihak dan sitem interpretasi dalam masyarakat penikmat di lain pihak.
Dari beberapa pendapat tersebut dapat dikembangkan batasan resepsi sastra adalah bagaimana pembaca memberikan makna terhadap karya sastra yang dibacanya, sehingga dapat memberikan reaksi atau tanggapan terhadapnya. (Nani Tulilo,2000: 72)
Tanggapan itu mungkin bersifat pasif, yaitu bagaimana seorang pembaca dapat memahami karya sastra itu, atau dapat melihat hakikat estetika yang ada di dalamnya. Mungkin pula bersifat aktif, yaitu bagaimana ia merealisasikannya.
Resepsi dapat pula diartikan sebagai proses penciptaan makna,yang menyadari instruksi-instruksi yang diberikan dalam penampilan linguistic teks tertentu. Yang menjadi objek penelitiannya bukan teks karya sastra itu, tetapi konkretisasinya bukan artefak melainkan objek estetisnya (Fokkema,1998:74)
5. Sistematika Unsur-unsur Resepsi Sastra dan Probematikanya
a. Pembaca
Pembaca karya sastra terbagi dua yaitu pembaca biasa dan pembaca ideal. Pembaca ideal dibagi yaitu �pembaca yang implisit� dan pembaca yang eksplisit�
Pembaca biasa adalah pembaca dalam arti sebenarnya, yang membaca suatu karya sebagai karya sastra, bukan sebagai bahan penelitian. Dalam resepsi sastra diperhatikan bagaimana reaksi pembaca biasa ini terhadap suatu karya sastra.
Pembaca ideal adalah pembaca yang dibentuk/diciptakan oleh penulis atau peneliti dari pembaca (pembaca) biasa berdasarkan variasi tanggapan mereka yang tak terkontrol, berdasarkan kesalahan dan keganjilan tanggapan mereka, berdasarkan komptensi sastra mereka yang putus-putus, atau berdasarkan berbagai variable lain yang menganggu. Pembaca yang diciptakan ini mungkin ada dalam teks atau di luar teks, dan dapat digunakan peneliti untuk meneliti peranan pembaca dalam suatu lukisan yang rasional.
Dengan begitu, dalam resepsi sastra ,�kesalahan� pemahaman bukan kesalahan, tapi suatu yang wajar.
? Pembaca implisit ialah ialah pembaca yang memainkan peranan bagaimana suatu teks dapat dibaca.
? Pembaca eksplisit adalah pembaca kepada siapa suatu teks diucapkan. Pembaca itu mungkin dinyatakan secara langsung sebagai yang ada
b. Legetica dan Poetica
? Legetica ; suatu teori bagaimana proses pembacaan dari seorang pembaca diterangkan dan juga bagaimana semestinya suatu penerimaan dalam suatu proses pembacaan.
? Poetica ; teori tentang cara suatu teks dapat dilukiskan sesuai dengan perspektif estetika karya itu.
c. Horison Penerimaan dan Kongretisasi
Diistilahkan dengan Cakrawala harapan atau horizon penerimaan. Horizon harapan adalah harapan-harapan seorang pembaca terhadap karya sastra.
Klasifikasi horison harapan
? Periodisasi sastra
? Karya (ragam) sastra
? Pengarang
6. Bentuk Penelitian Resepsi Sastra
a. Resepsi secara sinkronis
Meneliti karya sastra dalam hubungannya dengan pembaca sezaman. Sekelompok pembaca, misalnya memberikan tanggapan baik secara sosiologis maupun psikologis terhadap sebuah karya sastra
b. Resepsi secara diakronis
Meneliti tanggapan pembaca yang melibatkan sepanjang sejarah karya sastra tersebut. Contohnya karya sastra dengan problematika tersendiri, seperti novel Belenggu, cerpen Langit Makin Merah, puisi-puisi Chairil Anwar dan Rendra memiliki cirri-ciri reseptif yang sangat kaya untuk dianalisis.
Penelitian secara diakronis memerlukan data documenter yang memadai.
Metode dan penerapan resepsi sastra dapat dirumuskan ke dalam tiga pendekatan
1. Penelitian resepsi sastra secara eksperimental,
2. Penelitian resepsi lewat kritik sastra,
3. Penelitian resepsi intertekstualitas

DAFTAR PUSTAKA
Fokkema, D.W dan Elrud KunnnIbsch terjemahan J. Praptadiharja.1998. Teori Sastra Abad Kedua Puluh. Jakarta: 1998
Junus, Umar. 1985. Resepsi Sastra Sebuah Pengantar. Jakarta: Gramedia.
Ratna, Nyoman Kutha. 2011. Teori, Metode, dan Teknik Penelitian Sastra. Yogjakarta: Pustaka Pelajar
Tuloli, Nani. 2000. Kajian Sastra. Gorontalo: BMT �Nurul Jannah�

No comments:

Post a Comment