EDITOR YANG LONG TIME


Ini ceritaku seorang editor yang tercebur di kurikulum 2013. Hari itu di bulan Februari 2013 sore pukul 16.00 HP berdering kulihat dilayar nomor ponsel temanku Kristin seorang dosen dan pegawai Puskur. Dia mengajakku untuk datang ke Polimedia membantu Kristin mengedit buku pelajaran tematik SD. Awalnya aku ragu karena harus ke Polimedia untuk menginap. Tapi karena naluri seorang guru yang KEPO buanget ingin tahu 2013 akhirnya walau tanpa kesepakatan bagaimana nilai upah yang kuterima, akhirnya aku minta ijin Kepsek yang dengan legowo (apa terpaksa ) mengijinkan aku untuk cuti 2 hari (Kamis dan Jumat) itupun dengan senyum manis minta ijin dengan Dasto sang Sidikor agar biasalah titip jariku.

Sehabis Magrib dengan seijin suami aku pacu si Moni ke Polimedia tepatnya ke Wisma Polmed. Di sana sudah menunggu rekanku Dardji si Embah yang tadinya bangga dengan ditunjuknya dia menjadi editor. Bagaimana yah perasaannya ketika tahu aku juga ikutan jadi editor? di ruang atas wisma sudah ada Direktur Polimedia Bapak Bambang, Inggris dosen editor, dan Kristin. Jadilah malam itu aku membantu Kristin mengedit tematik SD kelas IV. Hari kedua di Wisma datanglah rombongan para penulis buku mata pelajaran. Mereka yang nantinya akan menjadi penulis. Awalnya tidak ada namaku di deretan editor buku mapel. Direktur Polimedia mengenalkan para penulis dan namaku ada untuk menjadi editor buku Seni Budaya katanya karena  namaku sama SENI (bisa aja).

Awalnya kami para editor penuh semangat menjalankan tugas negara yang katanya dikejar Dealine. Tidurpun  kurang, bahkan kadang lupa untuk pulang. Pernah aku pulang pukul 23 WIB, sudah dipastikan yah sampai berapa aku di rumah. Bahkan tetanggaku mengira aku baru pulang kampung karena sampai rumah sudah menjelang pagi. (aduh... malu banget). Mulai saat itulah waktuku tercurah untuk menjadi editor  buku kurikulum 2013. Penulisku yang awalnya 4 orang yang datang dari berbagai lapiran penulis, ada yang guru, penulis di penerbitan, hingga pelatih seni. tinggal mereka juga tidak ada yang di Jakarta. Penulis awal Seni Budaya yaitu: Seni Rupa :Harry Sulastianto, Seni Musik : Encep Seni Tari : Nana Supriyatna (yang kini sudah almarhum), dan Seni Teater : Sekar Galuh. Mereka datang dengan konsep penulisan yang berbeda-beda yang membuat aku dan bu Ratni (Supervisor Editor) sakit kepala. Ada di antara penulis yang tidak bisa diajak kerjasam dalam satu tim, maunya keinginan dia saja. Kalau sudah begini aku serahkan pada mereka maunya bagaimana.

Tidak berapa lama, aku mendapat tugas tambahan menjadi editor PJOK yang awalnya dipegang oleh Pak Purnomo Pudir I. Pekerjaanku yang ini sia-sia karena ternyata yang aku kerjakan bukan buku PJOK yang akan dipakai. (alamak apa pula ini). Tapi tak ada yang sia-sia, karena dengan menjadi editor PJOK aku banyak belajar tentang ilmu kesehatan dan menjaga kesehatan.
 Menjadi editor buku kurikulum 2013 membuatku mengenal para epjabat Kemdiknas, mulai dari Kepala Puskur bapak Ramon. Staf ahli menteri bapak Alkaf Alkatiri (yang ini punya cerita sendiri, nanti yah aku ceritakan di story berikut).Juga aku mengenal bapak Cipto (ini jabatannya apa yah?). Tidak itu saja aku juga banyak terlibat dengan para epjabat dan staf dari Puskurbuk, bahkan Pak Eri Utomo yang tadinya aku ga tahu apa jabatannya menjadi teman yang asyik dikala kejenuhan melanda. ternyata pa Erry yang aku eknal itu adalah Kepala Puskur Dikdas (nah Loh nanti aku banyak ini minta bantuan beliau).
 Editor yang andal adalah editor yang selalu mengedepankan penulis sebagai satu-satunya pemberi konsep. Itulah yang aku pegang selama aku menajdi editor buku kurikulum 2013. Satu kata pun yang aku rasa kurang pas selalu aku diskusikan dengan penulis. Baik melalui telepon atau kami berbincang langsung membahas buku. Tapi kejadiannya tidak demikian dengan buku Prakarya yang akhirnya menjadi tanggung jawabku karena aku ditugaskan menjadi editor Prakarya. Para penulsinya hanya ramah di depan, di belakang ia menghina, menjatuhkan aku di depan para setter yang mereka adalah mahasiswa Polimedia. Gerombolan penulis prakarya itu adalah : Suci (yang katanya lahir di jepang dan anak diplomat yang tidak bisa berdiplomasi) penulis Pengolah, ada Dewi Handayani penulis Kerajinan. Erni guru Semut-semut yang gayanya manis banget ketika berbicara yang ternyata di belakang mengatakan akau ga becus ga bisa mengedit yang benar. Istilah yang mereka gunakan saja terjadi miskomunikasi, kalau mereka memang saling menghormati harusnya mereka membahasnya bersama denganku bukannya malah menghujat dari belakang.
 Nona atau Christina Tulalessy adalah editor andal yang mengajarkan banyak hal padaku tentang bahasa. terima aksih yah Nona, ilmunya selalu aku ingat. Kata beliau kalau ada kata masing-masing maka




No comments:

Post a Comment