Laporan Citi Success Fund



BAB I
PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang Masalah

          Setiap hari kita pasti berkomunikasi secara lisan. Komunikasi itu kita gunakan untuk menginformasikan sesuatu hal atau mendapatkan informasi dari orang lain. Kegiatan belajar mengajar yang terjadi di dalam maupun di luar kelas juga merupakan cara mendapatkan informasi. Teknik penyampaian informasi yang baik memungkinkan seseorang memahami apa yang diinformasikan.
Guru sebagai fasilitator dalam kegiatan belajar mengajar haruslah memahami beragam metode atau teknik menyampaikan informasi kepada peserta didiknya. Hal ini dimungkinkan karena informasi yang disampaikan memiliki suatu tujuan yaitu agar peserta didik menuntaskan kompetensi dasar yang telah ditetapkan dalam silabus.
Metode pembelajaran berisi berbagai cara/teknik menyampaikan materi pembelajaran kepada peserta didik. Apabila dikaitkan dengan pengalaman belajar, metode berfungsi sebagai sarana untuk mewujudkan pengalaman belajar yang telah dirancang (Tarigan, 1980:260).
Metode diharapkan dapat mempermudah dan memperlancar proses kegiatan belajar mengajar. Kegiatan belajar mengajar sebagai sarana transformasi nilai dan ilmu pengetahuan dapat memberi nilai tambah bagi guru dan khususnya peserta didik. Bagi guru, penggunaan metode dan strategi yang bervariasi dan tepat dapat memberikan  rasa percaya diri yang lebih sehingga penguasaan kelas akan dapat berjalan dengan baik.
Berdasarkan kenyataan di atas, untuk mengatasi kendala seperti tersebut di atas, maka perlu dipikirkan cara penyajian dan model pembelajaran bahasa Indonesia pada pembelajaran keterampilan berbicara dengan multimedia pembelajaran berbasis ICT . ICT atau Teknologi Informasi dan Komunikasi yang kini berkembang, bisa menjadi salah satu alternatif bagi peserta didik untuk mengikuti perkembangan IT dengan dipadukan pembelajaran keterampilan berbicara. Pemanfaatan IT memungkinkan setiap peserta didik dapat berpatisipasi aktif dalam pembelajaran, karena bahan ajar dengan menggunakan media komputasi dikemas dalam bentuk interaktif dan bersifat edukatif.
Dalam pengembangannya penulis menggunakan metode survey dengan cara melakukan pengamatan secara langsung di lapangan. Hasilnya, ternyata  masih banyak peserta didik yang masih belum berani berbicara di depan kelas ataupun di depan umum. Cara penyampaian informasi yang masih belum baik serta perbendaharan kalimat yang masih sederhana. Padahal mereka tahu informasi apa yang ingin disampaikan.
Penggunaan Camtasia Studio adalah sebuah alternatif memanfaatkan IT dalam pembelajaran khususnya pembelajaran bahasa Indonesia. Tidak menutup kemungkinan penggunaan Camtasia Studio juga bisa digunakan untuk pembelajaran mata pelajaran lainnya. Dengan memanfaatkan IT dalam hal ini penggunaan Camtasia Studio, menjadikan suasana belajar dan mengajar lebih inspiratif, aktraktif, dan menimbulkan rasa ingin tahu peserta didik.
Banyak kegunaan Camtasia Studio dalam segi berkomunikasi dengan IT.
Mengapa Camtasia?
      Menjangkau siapapun, dimanapun (peserta didik yang baru belajar IT bias dengan mudah menggunakan Camtasia Studio)
o       Dengan Menggunakan Camtasia Studio, kita dapat dapat menyampaikan informasi dengan kualitas terbaik , baik untuk penggunaan saat itu juga maupun untuk penggunaan pada saat pertemuan berikutnya
      Tidak perlu memiliki kemampuan Multimedia
o        Dengan Camtasia Studio setiap orang dapat membuat vidio secara profesional.
Karena pengoperasian yang mudahlah maka kami menggunakan Camtasia Studio sebagai media untuk meningkatkan kemampuan berbicara peserta didik SMA Yappenda
1.2 Rumusan Masalah
a.   Langkah-langkah apa saja yang perlu dilakukan dalam menggunakan IT dalam pembelajaran keterampilan berbicara bagi peserta didik SMA YAPPENDA Jakarta?
b.  Apakah penggunaan Camtasia Studio dalam pembelajaran bahasa Indonesia dapat meningkatkan keterampilan berbicara bagi peserta didik SMA Yappenda?
1.3 Tujuan Penelitian
a.   Untuk mengidentifikasi langkah-langkah yang perlu dilakukan dalam menggunakan IT dalam pembelajaran keterampilan berbicara bagi peserta didik SMA Yappenda
b.  Untuk memaparkan hasil keterampilan berbicara peserta didik SMA Yappenda Jakarta
c.   Penggunaan media IT Camtasia Studio dalam kegiatan pembelajaran bahasa Indonesia.
d.  Dokumentasi sekolah terhadap karya peserta didik
1.4 Manfaat Penelitian
      Hasil yang diharapkan dari penelitian ini adalah sebagai berikut:
      Untuk Guru:
a.     Para guru bahasa Indonesia dapat mengetahui langkah-langkah yang perlu dilakukan dalam menggunakan IT dalam pembelajaran keterampilan berbicara, khususnya bagi peserta didik SMA Yappenda Jakarta;
b.    Keterampilan berbicara peserta didik SMA Yappenda Jakarta yang menjadi subjek penelitian dengan menggunakan Camtasia Studio ini mengalami peningkatan yang signifikan;
c.    Para guru bahasa Indonesia SMA  atau mata pelajaran lain untuk aspek berbicara peserta didik, diharapkan menggunakan Camtasia Studio dalam menyajikan aspek keterampilan berbicara, diharapkan juga menggunakan hasil penelitian ini dalam upaya melakukan inovasi pembelajaran Bahasa Indonesia dan mata pelajaran lain dengan memanfaatkan IT..
Untuk Peserta Didik:
a.    Berkomunikasi secara efektif dan efisien sesuai dengan etika yang berlaku, baik secara lisan maupun tulis;
b.    Menghargai dan bangga menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan dan bahasa negara;
c.    Memahami bahasa Indonesia dan menggunakannya dengan tepat dan kreatif untuk berbagai tujuan;
d.    Menggunakan bahasa Indonesia untuk meningkatkan kemampuan intelektual, serta kematangan emosional dan sosial;
e.    Memanfaatkan IT untuk sesuatu yang berguna dan bermakna
       
      
                                                                              BAB II
KAJIAN TEORI

2.1 Berbicara
      Salah satu aspek keterampilan berbahasa yang sangat penting peranannya dalam upaya melahirkan generasi masa depan yang cerdas, kritis, kreatif, dan berbudaya adalah keterampilan berbicara. Dengan menguasai keterampilan berbicara, peserta didik akan mampu mengekspresikan pikiran dan perasaannya secara cerdas sesuai konteks dan situasi pada saat dia sedang berbicara. Keterampilan berbicara juga akan mampu membentuk generasi masa depan yang kreatif sehingga mampu melahirkan tuturan atau ujaran yang komunikatif, jelas, runtut, dan mudah dipahami. Selain itu, keterampilan berbicara juga akan mampu melahirkan generasi masa depan yang kritis karena mereka memiliki kemampuan untuk mengekspresikan gagasan, pikiran, atau perasaan kepada orang lain secara runtut dan sistematis.
      Bahkan, keterampilan berbicara juga akan mampu melahirkan generasi masa depan yang berbudaya karena sudah terbiasa dan terlatih untuk berkomunikasi dengan pihak lain sesuai dengan konteks dan situasi tutur pada saat dia sedang berbicara. Namun, harus diakui secara jujur, keterampilan berbicara di kalangan peserta didik di SMA Yappenda Jakarta, belum seperti yang diharapkan. Kondisi ini tidak lepas dari proses pembelajaran bahasa Indonesia di sekolah yang dinilai telah gagal dalam membantu peserta didik terampil berpikir dan berbahasa sekaligus. Yang lebih memprihatinkan, ada pihak yang sangat ekstrim berani mengatakan bahwa tidak ada mata pelajaran Bahasa Indonesia pun peserta didik dapat berbahasa Indonesia seperti saat ini, asalkan mereka diajari berbicara, membaca, dan menulis oleh guru (Depdiknas 2004:9)
      Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (Kridalaksana, ed. 1996:144) dijelaskan bahwa berbicara adalah �berkata; bercakap; berbahasa, atau melahirkan pendapat (dengan perkataan, tulisan, dsb.) atau berunding�. Sementara itu, Tarigan (1983:15) dengan menitikberatkan pada kemampuan pembicara menyatakan bahwa berbicara merupakan kemampuan mengucapkan bunyi-bunyi artikulasi atas kata-kata untuk mengekspresikan, menyatakan, seta menyampaikan pikiran, gagasan, dan perasaan. Sedangkan, sebagai bentuk atau wujudnya, berbicara dinyatakan sebagai suatu alat untuk mengomunikasikan gagasangagasan yang disusun serta dikembangkan sesuai dengan kebutuhan-kebutuhan sang pendengar atau penyimak.
      Hal senada juga dikemukakan oleh Mulgrave (1954:3-4). Dia menyatakan bahwa berbicara adalah kemampuan mengucapkan bunyi-bunyi bahasa atau katakata untuk mengekspresikan pikiran. Selanjutnya, dinyatakan bahwa berbicara merupakan sistem tanda yang dapat didengar dan dilihat yang memanfaatkan otototot dan jaringan otot manusia untuk mengomunikasikan ide-ide. Berbicara juga dipahami sebagai bentuk perilaku manusia yang memanfaatkan faktor fisik, psikis, neurologis, semantik, dan linguistik secara ekstensif sehingga dapat digunakan sebagai alat yang sangat penting untuk melakukan kontrol sosial.

2.2 Camtasia Studio
    Camtasia adalah software (perangkat lunak) yang dikembangkan oleh TechSmith Coorporation. Camtasia ini sendiri digunakan untuk merekam semua aktifitas yang ada pada desktop komputer. Software ini bisa kita manfatkan untuk membuat media pembelajaran berbasismultimedia dan e-learning. (http://www.blogcatalog.com/blog/tutorial-camtasia-studio/ff759b592ee1ab9607e1e34b1326b862)
    Dalam beberapa penelitian ditemukan bahwa pengajaran bahasa Indonesia telah menyimpang jauh dari misi sebenarnya. Guru lebih banyak berbicara tentang bahasa (talk about the language) daripada melatih menggunakan bahasa (using language). Dengan kata lain, yang ditekankan adalah penguasaan tentang bahasa (form-focus). Guru bahasa Indonesia lebih banyak berkutat dengan pengajaran tata bahasa, dibandingkan mengajarkan kemampuan berbahasa Indonesia secara nyata (Nurhadi, 2000).
Zaman kini sudah berubah begitu berkembangannya Ilmu Pengetahuan dan Teknologi, menuntut kita untu mengetahui dan mengikuti perkemabangan Zama. Era Globalisasi dan AFTA yang ditandai dengan perkembangan Teknologi Informasi merupakan salah satu tonggak kemajuan IT , berimbas pada dunia pendidikan. System komputerisasi yang kin digunakan menuntut pelajar dan guru untuk mau belajar IT.
Era Globalisasi merupakan tantangan dan konsekuensi untuk berpikir maju dan bersaing dalam segala hal. Untuk itu kita harus mempersiapkan peserta didik untuk mampu bersaing di era tersebut melalui penguasaan dan kehandalan SDM. Karena sekolahlah mereka bisa serta mampu bersaing, karena sekolah adalah senjata paling ampuh untukmemenangkan persaingan yang semakin kompetitif, dan tidak lagi dipandang sebagai biaya, akan tetapi merupakan investasi mutlak. (Warungilmu)
Teknologi Informasi sudah menjadi kebutuhan pokok setiap individu, lihat saja di setiap sudut dari mulai anak-anak hingga orang lanjut usia sibuk menggunkan Hand Phone (telepon genggam) selain untuk berkomunikasi juga memanfaatkan teknologi untuk menjelajah dunia maya.sekolah

BAB III
METODOLOGI

3.1 Metode Penelitian
    Penelitian ini dimulai dengan melakukan identifikasi masalah atau refleksi awal terhadap rendahnya tingkat keterampilan berbicara peserta didik SMA Yappenda Jakarta. Berdasarkan refleksi awal ditemukan penyebab rendahnya tingkat keterampilan berbicara peserta didik SMA Yappenda Jakarta, yaitu penggunaan pendekatan pembelajaran dan metode yang tidak mampu membawa peserta didik ke dalam situasi penggunaan bahasa secara nyata atau terlepas dari konteks dan situasi. Akibatnya, proses pembelajaran berlangsung monoton dan membosankan. Oleh karena itu, diperlukan pendekatan pembelajaran dan metode dengan memanfaatkan IT yang kini sedang berkembang di kalangan peserta didik, yang diduga mampu membawa peserta didik ke dalam situasi penggunaan bahasa secara nyata sehingga peserta didik memperoleh manfaat praktis untuk diterapkan dalam peristiwa komunikasi sehari hari.  
Berdasarkan hasil pelaksanaan tindakan dan observasi, dilakukan analisis data yang diperoleh dari hasil keterampilan berbicara peserta didik SMA Yappenda Jakarta. Berdasarkan data dan hasil survey diperoleh data sebagai berikut.
a.       Keterampilan berbicara peserta didik  masih perlu dilakukan latihan untuk menumbuhkan sikap percaya diri
b.      Kemampuan IT peserta didik sudah baik karena peserta didik mengenal IT sehari-hari melalui pelajaran maupun kegiatan yang menyenangkan di rumah dan di luar rumah (Warnet)
3.2  Lokasi dan Subjek Penelitian
    Lokasi penelitian adalah kelas XI IPA  dan kelas XI Bahasa SMA Yappenda Jakarta. Subjek penelitian adalah peserta didik SMA Yappenda Jakarta yang terdiri atas 30 peserta didik kelas XI IPA dan 22 peserta didik kelas XI Bahasa, dengan rincian 24 peserta didik laki-laki dan 28 peserta didik perempuan.
3.3  Pemecahan Masalah
    Seperti telah peneliti kemukakan bahwa masalah yang diteliti dalam penelitian ini adalah rendahnya tingkat keterampilan berbicara, khususnya keterampilan peserta didik SMA Yappenda Jakarta dalam menceritakan pengalaman yang paling mengesankan  dan membacakan naskah berita dengan pilihan kata yang tepat dan kalimat yang efektif.
    Berdasarkan hasil identifikasi masalah dan refleksi awal, SMA Yappenda Jakarta yang dinilai sudah mampu menceritakan pengalaman yang paling mengesankan dan membacakan naskah berita dengan menggunakan pilihan kata dan kalimat efektif baru sekitar 20% (10 peserta didik) dari 52 peserta didik. Data ini masih jauh dari standar ketuntasan belajar minimal secara nasional, yaitu 75%.

3.4 Rencana Tindakan
    Rencana tindakan yang akan dilakukan dalam menggunakan pendekatan pragmatik untuk meningkatkan kemampuan kelas XI SMA Yappenda Jakarta dalam menceritakan pengalaman yang paling mengesankan dan membacakan naskah berita dengan pilihan kata dan kalimat yang efektif, dilakukan dengan beberapa tahap sebagai berikut:
Tahap Observasi dan Rencana Tindakan
1.   Guru melakukan survey data dengan menyebarkan angket untuk peserta didik kelas XI mengenai kemampuan berbicara peserta didik dan kemampuan IT
2.   Guru menganalisis hasil angket dan kemampuan peserta didik di kelas XI
3.   Guru menentukan pendekatan dan metode yang sesuai berdasarkan hasil angket
Tahap Pengenalan IT
1.  Berkolaborasi dengan guru IT guru mengenalkan media IT Power Point dan cara pengoperasiannya
2.  Guru IT mengenalkan Camtasia Studio dan pengoperasiannya pada beberapa Guru yang akan menjadi kolaborator dalam rencana tindakan
Tahap Pelaksanaan Kegiatan
1.      Guru membagi peserta didik menjadi beberapa kelompok, setiap kelompok terdiri dari dua orang peserta didik setiap kelompok menentukan tema yang akan dibuat
2.       Guru menugaskan setiap kelompok mengumpulkan materi pendukung berdasarkan tema yang telah ditentukan. Materi pendukung tersebut antara lain foto-foto yang mendukung informasi yang ingin ditulis usahakan menggunkan kamera digital atau kamera hanphone agar bisa digunakan di komputer, dan informasi dari internet
3.   Guru menugaskan tiap kelompok untuk menuliskan apa yang ingin disampaikan berdasarkan foto-foto yang telah dikumpulkan
4.      Setiap kelompok membuat sebuah presentasi dalam media power point dan memasukkan setiap gambar yang dimiliki
5.      Berdasarkan slide dan gambar yang telah sesuai tema, peserta didik menyusun informasi yang ingin disampaikan
6.      Guru memeriksa kesiapan media presentasi peserta didik dan bersama peserta didik memperbaiki kesalahan dan kekurang yang ada
7.      Bersama guru IT dan guru kolaborator, mengenalkan peserta didik pada media IT Camtasia Studio
8.      Peserta didik mempraktikkan media presentasi power point untuk mengisi suara peserta didik dengan menggunakan Camtasia Studio yang telah dipelajari dan menyimpannya
Tahap Evaluasi
1.      Peserta didik menyimpan hasil karyanya dalam bentuk CD
2.      Guru menyeleksi hasil karya peserta didik berdasarkan tema : pengalaman mengesankan atau membacakan berita
3.      Guru menayangkan hasil arya peserta didik di depan kelas dan bersama peserta didik melakukan penilaian silang
4.      Setiap kelompok menilai dua kelompok lain berdasarkan rubrik penilaian yang telah disepakati bersama (terlampir)
5.      Hasil penilaian direkap ulang
      Tahap Analisis dan Refleksi
                        Pada tahap ini, guru menganalisis data yang diperoleh berdasarkan unjuk kerja yang dilakukan peserta didik ketika menceritakan pengalaman yang mengesankan dan membaca naskah berita dengan pilihan kata dan kalimat yang efektif. Unsur-unsur yang dianalisis, yaitu kelancaran berbicara, ketepatan pilihan kata, keefektifan kalimat, kelogisan penalaran, dan kemampuan menempatkan gambar dan informasi yang sesuai. Berdasarkan hasil analisis data akan diketahui unsur-unsur mana saja yang masih menjadi hambatan peserta didik dalam menceritakan pengalamannya yang mengesankan dan membaca naskah berita.
Hasil analisis data tersebut juga sangat penting dan berharga sebagai bahan untuk melakukan refleksi bersama peserta didik.
Tahap Reward
1.      pada tahap ini kelompok yang mengumpulkan nilai terbanyak dari penilaian dua kelompok lain mendapatkan reward atau penghargaan
2.      pengharagaan yang diberikan adalah dalam bentuk pujian dan penambahan nilai 2 untuk terbaik ke-1 dan penambahan nilai 1 untuk terbaik ke-2
3.5  Tahap Camtasia Studio media presentasi Power Point
    Berikut ini adalah tahapan menggunakan Camtasia studio aspek berbicara tema menceritakan pengalaman mengesankan dan membacakan naskah berita yang diajarkan pada peserta didik SMA Yappenda Jakarta.
  1. Instal Camtasia Studio 5.1 (bisa didownload di internet, atau membeli cd driver yang banyak dijual di toko penyedia layanan IT)
  2. buka power point
  3. add mix volume pada pojok kanan
  4. tekan option pilih advance control
  5. buka power point klik camtasia add in option
  6. klik star
  7. at  end prsentasion pilih stop recording klik
  8. video frame rate 10
  9. klik capture layered windows
  10. klik record audio
  11. audio source pilih microphone only
  12. klik record di pojok kiri atas
  13. mulai merekam apa yang akan dibicarakan mulai dengan salam
  14. selesai rekam klik esc
  15. muncul save klik edit recording
  16. muncul project setting
  17. klik oke
  18. klik produce video as
  19. muncul production wizard
  20. klik flas
  21. klik next
  22. muncul recomended gambar flas klik swf/flv
  23. klik mana yang kita inginkan sesuai kebutuhan
  24. klik next
  25. klik template
  26. klik size sesuai kebutuhan
  27. next muncul video optionklik include
  28. muncul watermark
  29. next muncul produce video
  30. pilih nama penyimpanan kemudian buat rename sendiri sesuai kitaBAB IV
    PENUTUP


    4.1 Kesimpulan
    Program ini merupakan salah satu upaya dalam meningkatakan kemampuan berbicara peserta didik dalam pelajaran Bahasa Indonesia. Program ini diajukan karena melihat beberapa masalah yang sering terjadi dalam pembelajaran Bahasa Indonesia, antara lain :
    1. Peserta didik masih malu untuk berbicara di depan kelas
    2. Peserta didik kurang pandai menyusun kalimat dalam berbicara khususnya bercerita, menyampaikan informasi atau berkomunikasi secara lisan.
    3. Kurangnya pemahaman peserta didik terhadap isi materi pelajaran terutama aspek kemampuan berbicara
    Pemecahan dari masalah yang sering dialami guru dalam pelajaran Bahasa Indonesia dengan menggunkan media power point Camtasia Studio ternyata mampu meningkatkan kemampuan berbicara bahkan kemampuan menulis. Kemampuan berbicara ditingkatkan dengan cara mengulang presentasi yang dibuat secara kelompok dan mendengarkan langsung hasilnya sehingga peserta didik tahu kekurangan dari kemampuan berbicaranya.
    Selain itu memanfaatkan Camtasia Studio sebagai media untuk meningkatkan kemampuan berbicara peserta didik, menumbuhkan semangat untuk lebih menguasai IT untuk hal yang positif.
    Beberapa kelebihan menggunakan Camtasia Studio antara lain:
    1. Camtasia Studio memungkinkan peserta didik yang masih malu untuk berbicara menjadi percaya diri setelah melihat hasil rekamannya.
    2. Hasil karya peserta didik dapat menjadi referensi guru lain untuk mengembangkan kemampuan berbicara peserta didik juga sebagai penghargaan terhadap hasil karya peserta didik.
    3. Hasil karya peserta didik terbaik dapat menjadi media untuk pembelajaran di kelas
    4. Kegiatan ini dapat berlangsung karena setiap peserta didik akan tertantang untuk berbicara dengan bantuan Camtasia Studio.
    5. Selanjutnya peserta didik dapat membuat sendiri rekaman dalam bentuk lain, misalnya film pendek
    6. Memudahkan dan memberikan alternatif pembelajaran di luar kelas yang bermanfaat, menyenangkan,  bermakna bagi peserta didik
    7. Peserta didik mampu dan tidak malu lagi untuk berbicara di depan umum.
    8. Peserta didik dapat mengasah kemampuan berbicaranya dalam berbagai bentuk

    4.2 Saran
                Setiap tindakan dan kegiatan yang dilakukan pasti ada hambatan atau halangan yang mengiringinya. Berbagai kendala, hambatan, atau apapun halangan merupakan suatu cambuk untuk lebih baik lagi pada pelaksanaan yang berikutnya.
    Ada beberapa kendala dalam pelaksanaan penelitian ini, antara lain sulitnya mencari instruktur dan sofware pendukung penelitian.
    Kendala di lapangan antara lain :
    1.      Sumber daya manusia dalam hal ini siswa yang masih perlu pembinaan dan pengarahan intensif selama pelaksanaan kegiatan.
    2.      Aliran listrik yang kerap padam karena ada pemadaman bergilir, dan untuk waktu yang tidak tentu
    3.      Hardware yang kerap ada kerusakan pada saat pengoperasian, dan perbaikannya membutuhkan waktu lama menunggu teknisi yang memperbaiki.
    Karena berbagai kendala tersebut maka kami menyarankan :
    1.      Pada pelaksanaan menggunakan Camtasia Studio hendaknya melibatkan beberapa guru sebagai kolaborator yang berperan akatif dan tahu mengenai IT (minimal 5 orang guru terlibat di ruang kelas ), dengan asumsi 1 guru menghadapi 3 kelompok atau 6 orang siswa dengan jumlah siswa 30.
    2.      Atur waktu pelaksanaan dengan melihat jadwal pemadaman listrik ( lebih baik lagi bila dalam sekolah mempunyai generator sendiri, sehingga gangguan pemadaman dapat diatasi)
    3.      coba kembali semua perangkat IT, sebelum pelaksanaan dengan mengecek kabel, monitor, mouse, CPU, dan kelengkapan lainnya
         Hambatan dalam pelaksanaan kegiatan adalah sebuah bumbu agar kegiatan tersebut lebih bervariasi dan menarik, kegagalan karena kita pernah salah dan kesalahan bisa kita perbaiki untuk menghasilkan yang terbaik. Mudah-mudahan penelitian ini dapat berguna untuk memajukan pendidikan di Indonesia sehingga dapat menghasilkan para penerus bangsa yang bermutu.









    DAFTAR PUSTAKA

    Arifin, Zaenal E. 2003. Dasar-dasar Penulisan Karangan Ilmiah. Jakarta: PT Grasindo
    Badudu, J.S. 1984. Inilah Bahasa Indonesia yang Benar. Jakarta :  Gramedia
                Departemen Pendidikan Nasional. 2001. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta : Balai Pustaka
    _________ 2001. Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia. Jakarta : Balai  Pustaka
    _________.2004. Materi Pelatihan Terintegrasi Prinsip dan Pendekatan Pembelajaran Bahasa Indonesia.
    Hernowo.2004. Bu Slim & Pak Bil: Menggagas-Kembali Pendidikan Berbasiskan Buku. Bandung:Mizan Learning Center
    _______. 2005. Menjadi Guru yang Mau dan Mampu Mengajar Secara Menyenangkan. Bandung: Mizan Learning Center
    Syafrizal,Melwin.2005.Pengantar Jaringan Komputer.Yogyakarta: CV Andi Offset.
    Rachmat,Ujang Dkk. 2007.Pengembangan Bahan Ajar dan Bahan Ujian Berbasis Teknologi Informasi dan Komunikasi. Jakarta: Depdiknas
    Mulyasa, E. 2005. Kurikulum Berbasis Kompetensi.Bandung: PT Remaja Rosdakarya
    Parera, Jos Daniel. 1996. Pedoman Kegiatan Belajar Mengajar Bahasa Indonesia, Landas Pikir dan Landas Teori. Jakarta: Grasindo
    Suyatno. 2005. Permainan Pendukung Pembelajaran Bahasa dan Sastra. Jakarta: Grasindo
    Tarigan,Henry Guntur.1983. Berbicara sebagai Suatu Keterampilan Berbahasa Bandung: Angkasa

    LAMPIRAN � LAMPIRAN


    1.      Kuesioner
    2.      Tabel Evaluasi Proses Pembelajaran
    3.      Hasil Penilaian
    4.      Foto-foto kegiatan
    5.      Biodata Penulis

No comments:

Post a Comment