PERSAHABATAN







TEMAN, SAHABAT, FREN, OR SOBAT


Apapun namanya, pertemanan, atau persahabatan susah untuk ditemukan dan dibina. Teman yang mau menerima kita, yang selalu ada untuk kita wah.... hari gini masih ada nggak yah? Pertanyaan itu yang selalu aku cari jawabnya. Masih adakah persahabatan yang tulus di belantara kehidupan yang individualis dan egois ini apalagi di kota Jakarta? yang merupakan sumber segala egoisme manusia.
Sejak muda dulu... yah ketika masih bau kencur, di SD aku berteman dengan siapa saja, tak jarang teman itu kadang jadi musuh hanya karena hal sepele, misalnya tidak menegur atau tidak memberikan mainannya. Pertemanan di usia itu sungguh lucu, karena hari ini bermusuhan besok kami sudah baikan lagi tandanya dengan mengaitkan jari kelingking ke teman tersebut.
Menginjak remaja atau SMP pertemananku karena kami harus selalu bersama ke sekolah. Dengan becak langganan. Namanya Marhayani, rambutnya panjang dan cerewet sekali. Tapi asyik juga kalau sudah bermain. Di SMP inilah kami mulai menghargai dan tahu artinya pertemanan.
Di SMA aku sudah tidak tahu lagi kemana arah pertemanan, karena adanya intrik dan saling menyaingi baik mengenai lawan jenis maupun pergaulan, tapi syukurlah teman-temanku terbilang banyak, kata orang aku ini mudah berteman.
Menjadi mahasiswa pertemanan aku awali di tempat kost. Mulanya aku Kost dengan Indah teman waktu SMA. Tapi pertemanan yang sesungguhnya sewaktu Indah mengajak teman kelasnya bernama Muslimah, anak seorang pengusaha berdarah Betawi. Sifatnya yang tidak sabaran, mudah marah, tapi royal jadi bumbu pertemanan kami. Hingga sekarang aku dan Muslimah atau yang biasa aku sapa Imah selalu saling mengisi dan mengabari.
Pertemanan juga aku lakukan di dunia kerja. Di tempat aku mengajar SMA Yappenda aku mengenai Sri Utami ini temanku waktu kuliah, pembawaannya yang kalem, lembut, serba ketakutan dan bingung jadi ciri khasnya. Karena sama-sama mengajar mata pelajaran yang sama jadi aku banyak berinteraksi dengan Wiwi panggilan untuknya.Tapi jangan salah justru Wiwilah yang bisa jadi pemimpin, karena ia menjabat sebagai ketua RT di lingkungannya yang terkenal dengan para preman. Kok.. bisa yah, Nah pertanyaan itu juga terlontar dari mulut ini kok.. Wiwi bisa jadi ketua RT? Tapi dengan kelembutan dan sikapnya yang sok tahu terbukti Wiwi bisa memimpin lingkungan RTnya. Buktinya hingga saat ini warganya aman-aman saja tuh punya bu RT Wiwi.
Selain itu ada juga Sri Rahayu, orang Solo yang bersuara Bass seperti orang dari daerah Seberang. Kami menyebutnya kelas berat, karena bodynya yang berat dan keinginan serta kemauannya yang juga berat. Karena ia yang paling tua diantara kami berempat , maka kami membiasakan memanggilnya Mbak. Temanku ini walau kelihatan gagah tapi rapuh, apalagi kalu bicara mengenai perasaan, airmatanya gampang banjir membasahi pipinya yang bohay.... Mbak jangan sering menjatuhkan airmata yah apalagi di depan orang yang menindas kita, seberat apapun yang Mbak rasakan pasti ada jalan keluarnya. Juga jangan terlampau baik yah sama orang, karena tidak setiap orang ngerti dan paham niat baik kita itu. OKE...! Tapi kalau mengenai makan, apalagi traktir-mentraktir, ibu satu ini luar biasa royalnya. Tempat makan mahal jadi tujuan pentraktirannya, menu favorit kami masakan Japan di restoran Yuraku, Kelapa Gading. Apalagi kalau sudah menyangkut penampilan, aduh.... ada aja idenya buat heboh tampilan dengan perhiasan yang cukup rame dikenakan (katanya hasil kreasinya loh.. boleh juga yah!). Nah kalau ada baju atau apapun yang dipakainya sudah nggak muat, yang ketiban rejeki aku dan Wiwi, karena pasti kami kebagian jatah baju dan celananya yang masih bagus dan pasti mahal punya jatuh ke tangan kami. Untuk yang satu ini Makasih yah Mbak.

Teman kami satu lagi masih tergolong kelas berat juga , yaitu Devi Zubaidah Tampubolon, Peranakan Padang- Batak jadi nya super kelas berat juga. Tapi walaupun berat suara temanku yang satu ini lembut mendayu-dayu, kalau di telepon merdu banget.... tapi kalau lihat orangnya yah nggak sebandinglah sama suaranya yang imut dan merdu. Bodynya yang aduhai berat sehingga ada nama indah buat panggilannya yaitu Devi Demplon Deboy. Nah.... kebayangkan bagaimana sexinya kedua temanku ini. Sayangnya Devy tidak bersama kami lagi, Ia mengundurkan diri dan menetap di Depok tempat ia ditugaskan sebagai PNS. Kata orang rumahnya di Depok Super luasnya. Mungkin untuk ukuran kami yang tinggal di Jakarta dengan luas tanah 800 meter persegi terbilang luas sekali yah... Katanya juga rumahnya itu di belakang sekolah tempatnya mengajar jadi tinggal menerobos pintu belakang sampailah di sekolahnya. Aku belum juga berkesempatan ke rumahnya. Suatu hari pasti aku akan melihat temanku ini. Selain ketiga temanku ini di tempat kerja masih ada lagi teman-temanku yang lain yang juga mengisi hari-hariku, tapi mereka bertiga yang banyak mengisi relung hati ini dengan pertemanan. Aku tidak tahu sampai kapan kami bisa saling mengisi, karena semakin laju waktu dan kesibukan, serta misi dan visi yang berbeda pertemanan ini semakin jauh untuk digapai.
Pertemanan juga aku dapatkan sewaktu aku terpilih mewakili DKI untuk program persahabatan Indonesia-Japan bulan Jlui tahun 2001. Rombongan kami berjumlah 21 orang dari seluruh Indonesia Sabang sampai Merauke. Selama 40 hari di sehati dengan empat kawanku dari beberapa daerah.


No comments:

Post a Comment